Jumat, 25 Desember 2015

Cinta

Aku ingin melangkah
Ketika perjalan yang ku lalui mulai lelah
angin dan matahari semakin mejajah
Didalam tidur,pelukanmu menjadi hadiah
Jaring-jaring prasangka, 
sekat-sekat ketidakpercayaan
Pemersatu angan dan impian
Saling menyayangi
Saling menjaga
Dan akan terus saling menguatkan
Cinta.

Sabtu, 19 Desember 2015

Coretan Kanvas




"Entah malam keberapa, aku menyebut namamu dalam diam. Berusaha mengapungkan rindu yang karam."


Aku ingin mengistirahatkan ingatanku dalam sebuah lukisan kehidupan yang baru dari kanvas yang belum tercoret oleh kuas. Dan coba ku mulai goresan-goresan yang kadang bermakna sesekalipun juga tidak, aku melihat coretan yang kuperbuat karena kesalahanku,seseorang mulai mencibirnya perlahan. Harus beberapa sering aku memaknai kau sebagai pelurus coretan-coretan yang kuperbuat,kebingungan yang kuperbuat membuatku hampir tidak menyelesaikan lukisanku,kau ada bersamaku untuk menyelesaikan coretan di kanvas kosong itu, sesekali kau berada dibelakangku memelukku hingga aku tau bahwa kehidupan bukan sekedar menilai bahwa kita harus selalu menjadi yang terbaik untuk mereka, mari kita pergi. perihal waktu singkat, aku ingin kau selalu mendekapku dalam ketenangan hidup,dalam setiap pejam semoga aku mampu menjadi yang kau cari setelah mata itu terbuka, semoga pagi menjadi kawan yang menemaniku menjagamu sampai kau terbangun, biarkan kanvas itu menjadi coretan indah yang kau dan aku lukis bersama. Aku tidak ahli dalam hal itu,aku selalu membuat kesalahan pada beberapa coretan dan kau pun mampu mengindahkan itu. Kata Tuhan, kesalahan adalah bagian dari cara kita memperjuangkan sesuatu. Aku bingung sebab aku tak mampu menjelaskan kenapa aku begitu mencintaimu. Karena aku punya banyak kata-kata syukur yang sepertinya hanya pantas untuk kusandingkan dengan namamu. Tinggallah lebih lama, menemukanmu butuh waktu yang tak sebentar. 

Minggu, 13 Desember 2015

Tulisan Desember



"Desember memasuki kamarmu, membawa secangkir teh, lalu duduk temanimu merayakan rindu."


Ada keheningan yang kurasakan dari ramainya dentingan hujan berjatuhan. Aku terus menulis harapan-harapan yang terjadi disetiap waktu,musim dan cuaca. Manusia kadang terlalu memaknai kesedihan sehingga lupa bahwa dia pernah bahagia. Namun, kesedihan-kesedihan itupun larut dalam dangkalnya arus kebahagian yang Tuhan tiupkan melaui angin. Kadang aku menulis dalam keegoisanku untuk selalu mengerti perasaanku terhadap setiap tulisan yang kuukir. Aku lupa bahwa aku punya kau sebagai pembaca yang selalu berusaha mengerti apa yang kutulis sekalipun kau menerka-nerka. Aku yang kau anggap sebagai kebahagiaan yang tak pernah terlisankan, aku adalah puisi dan sajak abstrak yang kau tidak pahami sehingga kau menangis ketik harus memahamiku. Kau penerjemah yang handal sekalipun terkaan yang kau ciptakan selalu benar. Kau perangkai kata yang melebihiku karena kata-kata sederhana sering muncul bahkan untuk membuatku tetap berdiri menjadi seorang laki-laki yang tangguh. Aku butuh sedikit saja alasan untuk tersenyum, dan keberadaanmu selalu lebih dari cukup. Tanggal-tanggal rapuh di kalender dinding kamar pasti akan jatuh satu persatu sebagai waktu yang tak bisa memiliki kita. Kita berjanji untuk menyalakan kembali sebuah pelukan, untuk menghangatkan yang gelap dan menerangi yang dingin selama ini. Dan ingatlah Kau tak pernah sendiri, karena aku akan tetap memelukmu, dalam doa sekalipun.

Jumat, 27 November 2015

Senyuman

 

"Beberapa saat menatapmu sambil tersenyum,dan salah satunya adalah aku yang memaknai itu sangat indah"



Tuhan selalu mampu mempertemukan manusia dalam detik yang abstrak,keadaan yang tak terduga,dan bahkan ketika kita tidak siap untuk menerima itu, manusia kadang bingung atas kebahagiaan yang dia nikmati, mungkin pertemuan paras pendek yang terlintas melalui pandangan yang sayu membuatku sekarang justru ingin terbawa dalam penentuan kisah yang kau tentukan,aku tidak perlu harus berpura-pura mendeskripsikan karakter dan parasmu yang tak mampu ku lisankan, kecantikan adalah sumber alamiah dari nikmat Tuhan yang diturunkan melalui goresan dan lekuk senyumanmu, kau hanya tinggal bersyukur atas apa yang kau dapat dan terus bahagiakan dirimu, dalam bayangan dirimu yang tersenyum seakan berkelana di otak,dan itu semakin mendominasi perasaan daripada logika, mungkin tulisan-tulisan dan goresan-goresan tinta yang buram tidak sepatutnya harus berbicara,sesekali aku membayangkan kau mau mendekap sela-sela jariku yang kosong ini, atau itu akan menjadi hal yang khayal ? Yah mungkin aku terlalu berlebihan dalam berimajinasi,kadang aku lupa diri, namun biarkan itu menjadi rahasia kehidupan yang dijawab oleh keadaan yang tak tertentu,ataukah itu mampu dijawab kau yang mengalami hal yang sama dengan goresan sebelum kalimat ini,selamat menikmati anugerah Tuhan,selamat mensyukuri keindahan-keindahan di lekuk bibirmu,semoga itu tak pernah hilang walau hanya sesekali :)

Senin, 16 November 2015

Kepergian yang Pergi


"Ada yang harus kita pelajari dari sebuah kehilangan,dan yang kita harus maknai dari sebuah kepergian"


Perlahan turun udara senyap malam yang menjadi kenikmatan,kepulan asap penghangat yang baru saja ku hembuskan membuat aku melamunkan tentang sebuah kepergian yang pergi. Dari seseorang yang tak selalu bersyukur,dan dari seseorang yang tak pernah belajar bahwa kesalahan adalah tamparan keras untuk selalu membuatmu terus berlaku benar. Aku belajar dari sebuah kepergian yang pergi entah dia berjanji ataupun dia hanya bergumam tentang penantian yang dia anggap panjang dan menurutku mustahil, teriakan teriakan peredam kuping yang merusak gendang telinga tentang sebuah bahasa bahasa penyejuk hati, yang kulihat hanya akan menjadi kata-kata utopis untuk selalu dimaknai dan diingat. Aku memaknai sebuah kepergian yang pergi tentang tujuan yang masih di rajut Tuhan, tentang manusia yang menaruh harapan pada ekspektasi yang jelas masih belum bisa terbukti, mungkin angkuhnya aku dan naifnya kau menjadi hal-hal yang tidak bisa kita persatukan. Pelajaran -pelajaran yang kita jadikan sebagai empiris tidak menjadikan kita kedua insan yang terus memperbaiki diri. Pergilah dari sebuah kepergian,kita nantikan hal yang kau dapat dan apa yang akan kau bawa kembali....

Kamis, 08 Oktober 2015

Deskripsi Alam

"Tangkap aku, sebagai serbuk kupu-kupu pada sidik jarimu. Di hari alastu, seharusnya cinta tak selembut itu"


Duduk terdiam sambil mendengar lirihan air mengalir seakan pertemenan bersama sepi semakin akrab. Obrolan singkat bersama cuaca dingin yang selalu setia bergandengan dengan angin yang menyentuh tanaman hias, kali ini aku merasa sepi dalam kesendirianku sebagai manusia namun ku tak pernah sendiri sebagai hakikat makhluk yang diciptakan Penguasa. Kenikmatan pejaman mata dan hamparan cahaya bulan setengah sempurna semakin membuat diri ini di ambang kebebasan tak terkira. Langit malam terus bergerak seperti ingin menipu ku bahwa malam ini sangat indah untuk diingat. Seandainya cinta yang ku rasakan selembut apa yang sudah ku deskripsikan seperti angin,langit, dan bulan mungkin senyumanku tak akan lepas seperti dulu. Hanya mampu merebahkan diri dan mengingat keindahan dulu dan berusaha bersyukur atas keindahan-keindahan baru yang mungkin belum siap menggantikan keindahan-keindahan sebelumnya...

Rabu, 23 September 2015

Hawa

"Tersenyumlah... sebab barangkali, diluar sana ada yang jatuh cinta, saat melihatmu tersenyum"



Kali ini aku bercerita tentang perempuan yang sulit dilisankan kecantikannya dan parasnya. Pertemuan kami yang sederhana dan ucapan sapa yang lirih dituliskan dalam bentuk senyuman yang terhias di lekuk wajahnya. Entah mengapa jadi sedikit bingung terhadap pertemuan ini. Atau memang sikap yang menjadi tak menentu. Semoga saja Tuhan ikut andil dalam pertemuan yang tak terduga ini. Saat angin mulai semilir lagi menyentuhku kadang disitu aku merasa bahwa ada hal baru yang harus ku lakukan bersama orang-orang baru. Coba ku hentikan jejak yang usang yang menggangu setiap rebahku dalam malam dingin. Dan semoga orang yang Tuhan maksud adalah "dia" sekalipun kekecewaan datang tidak hanya sesekali. Kali ini aku mencoba untuk berharap sebuah kesempatan datang dari Tuhan untukku dan semoga untuknya juga. Coba saja dia tau bahasa ini bukanlah rethorika yang palsu. Yang masih menjadi pertanyaan adalah kau datang sebagai kekecewaan baru ataukah kau akan menjadi hal yang istimewa yang aku spesialkan suatu waktu nanti...

Senin, 14 September 2015

Manipulasi Hari

"Diantara ragam rupa wajah yang terlihat hari ini. Tak satupun yang dapat ku rangkul dan terlihat sama. Aku dimana ?"


Hari ini udara tenang kurasakan. Setiap jalan hidup yang dilalui serasa angin semilir mengikuti hingga aku tak menuju manapun. Hingga aku lelah untuk melangkah. Suara minor bahagia dan ritme tawa yang seirama dengan hawa sejuk di tempat ini membuat aku lupa waktu,dan lupa bahwa aku menghabiskan masa itu disini. Kadang tawa terhenti sejenak dikala aku merenung dan bersyukur bahwa Tuhan masih menciptakan keindahan itu bersamamu. Coba kau menengadah ke langit biru yang selalu melihat gerak gerikmu. Sembari menunggu hari yang termanipulasi oleh tingkahmu. Kau seperti dewa yang buat orang yang terus bermimpi dan mengerti bahwa hidup ini harus terus dikejar. Sembari menunggu hari yang termanipulasi oleh tingkahmu. Mari melihat senja yang mendung yang ku harapkan datang untuk mimpi yang kau beri. Nada-nada ramaikan ruangan ini dan doa tercampur di dalamnya. Sembari menunggu hari yang termanipulasi oleh tingkahmu. semoga semua yang kupanjatkan bisa bermajas bahagia....

Minggu, 06 September 2015

Aku Pernah Percaya



"pada kali pertama saat kau memintaku untuk tetap tinggal dan bertahan, aku memutuskan untuk tidak pergi dan selalu berdekatan"



Aku pernah percaya bahwa pertemuan yang diciptakan Tuhan bukan sebagai awal kekecewaan yang terus menderu, lihat ketika hari-hari yang penuh tetesan air mata,yang kau butuhkan bukan seseorang yang sepertiku yang mampu mencekoki kesedihan yang membuatmu muntah dalam ketidakbahagiaanmu sebagai orang yang kukasihi. Aku pernah percaya bahwa hanya kau yang mampu ku cintai,namun terkadang keyakinan yang kau punya mampu dipatahkan. Langkah jejak yang kita buat di setapakpun semakin bertolak belakang.tanpa menoleh dan tanpa saling menyapa. Aku merindukan kenangan bukan merindukan penyesalan dan sekalipun itu kembali itu hanya menjadi kisah manis yang hanya mampu kita mimpikan. Lelaki yang sekarang kau percaya sebagai pelabuhanmu seakan menjadi titik terang yang kau punya untuk menerangi hatimu yang suram bersamaku. Cinta kadang abstraksi,dan penuh tanda tanya. Dia ricuh sekali dalam singgah di penempatan hati, tak memandang siapapun dan kapanpun. Aku pernah percaya bahwa akhirnya kita sebagai manusia yang saling berantagonis satu sama lain. Melalaikan perasaan yang sudah ada dan menguatkan ego untuk saling mengalahkan. Tuhan menawarkan pilihan baru untukmu. Pergi sejauh mungkin hingga aku tak mampu mengenalmu sebagai paras yang kuanggap indah. Dan aku pernah percaya ketika kau pergi waktu sudah memberikan kesimpulan yang menjawab semua penantian yang kuanggap sia-sia....

Rabu, 12 Agustus 2015

Pesan

Angin mencoba berbisik
Dari malam yang semakin mengusik
Aku tidur dalam kesederhanaan
Semoga jasadku masih bisa kau ingat....


Hujan mencoba untuk berteman
Dari rasa sunyi yang semakin kelam
Kau adalah orang yang ku tunggu
Di bangunnya pagiku......


Embun mencoba manja
Yang ku tahu kau tak pernah disampingku
Bahkan menyapaku saat aku membuka mata
Pesan apa yang kau dapat....

Kamis, 06 Agustus 2015

Sunyi

Sunyi ini menusuk
Hingga tulang menjadi lunglai
Dan harapan tak bisa jadi penopang
Akankah kau disana?

Sunyi ini menggelitik
Di waktu yang kunikmati
Diantara langkah jam yang semakin pagi
Singgah lah disini sejenak

Sunyi ini tabah
Melihat embun tanpa paras
Menunggu angin tanpa merasakan
Dan kaupun pergi...

Rabu, 29 Juli 2015

Tidurlah

Tidurlah....
Sebelum gelap jatuh
Sebelum dia terlihat angkuh
Kau tak pernah jenuh
Kau masih saja menunggu...


Tidurlah...
Tak ada jawaban pasti
Dari seorang yg kau tunggu
Kau terlihat seperti benalu
Kau masih saja menunggu...


Tidurlah...
Hanya malam yang bisa kau sapa
Bukan dia yg tidak memberikanmu apa-apa
Entah pikun entah lupa
Kau masih saja menunggu...


Tidurlah...
Pinggirkan sejenak pahitmu
Dalam susahnya menunggu
Hingga terbawa dalam bunga tidurmu
Bahkan kau masih saja terus menunggu....

Minggu, 05 Juli 2015

Jalanan Masa Kecil


"Berdebu namun tidak terlalu sukar untuk kuhirup karena sebagian kenangan ditempat ini ku nikmati bersamanya. Kawan"


Kami menyusuri langkah demi langkah dalam keceriaan bersama,bukan karena kami senang. Karena kami tau kebahagiaan sesungguhnya hanya ketika aku dan kau saling berbagi. Lucu ketika ku tau kita telah tumbuh dewasa yang sudah tau apa arti hidup ini,berbeda dimasa kita dulu,yang selalu kita habiskan di sepanjang jalan ini. Bermain,tertawa,dan terjatuh seolah2 aspal yang hitam ini sudah menjadi sahabat kami dimasa kecil,panas yang kami rasakan ketika tidak menggunakan alas kaki seakan sudah bersahabat dengan kami. Lampu redup yang pecah karena ulah kami. Menjadi saksi kenakalan kami masa itu. Akankah kau menemukan manusia kecil pembuat onar seperti kami kala itu ? kami rindu jalanan yang menghidupi masa kecil kami,yang selalu menjadi mata dalam setiap keceriaan kami. Kala itu.....

Minggu, 21 Juni 2015

Perspektif

"Mungkin kebersamaan kita adalah kebahagiaan yang Tuhan tangguhkan. Atas doa-doa kebaikan yang dulunya aku dan kau panjatkan"


Kadang bersemi kadang pula gugur terbawa angin,kadang juga tak terasa jika sudah pergi,mungkin kita belum bisa belajar dari kesedihan yang berlalu,juga perspektif kita masih dalam sanubari individualis yang termakan egosentris,kicauan cerca yang kita ejawantahkan menjadi perlakuan yang tidak seharusnya,membuat kita semakin kehilangan kedewasaan,entah sampai lama kau akan duduk sendiri dipojokan sambil menunduk dan meneteskan air mata,dan kau terus membungkam mulutmu dengan kekesalan dan kebencian yang kau ciptakan untukku,kita tidak berani saling menatap,apalagi saling menyapa senyum. sejauh mata memandang hanya bentuk tubuh yang terlihat tanpa aku mampu mendekat bahkan memberikan sapaan untukmu,mungkin kodrati yang terlalu kaku atau kita yang terpaksa melawan semua itu ? Biarkan perspektif menari dalam setiap prasangka baik yang ku muncul kan dalam relung pikiran,biarkan mengalir deras hingga terbukti bahwa Tuhan memanggil kita hanya untuk pertemuan kah ? Atau memang lebih dari sekedar bersama dan memiliki untuk selamanya....

Sabtu, 13 Juni 2015

Nokturnal




"Bersama malam kan kubawa mimpiku menilisik jejak perjuangan hingga tetesan keringat kering dan sampai tulang belulang menjadi retakan"



Aku hidup di malam gelap gulita,ketika semua mata hanya menyapa imajinasi belaka dalam kantuk,aku masih berpapasan dengan hidup yang dianggap nyata,setiap dingin yang kutempuh bersama sejawat,itu lah yang kami kisahkan,tentang kenapa semua bisa terjadi,kami tidak hidup normal,melainkan yang mati dalam kebiasaan manusia pada umumnya,bulan kadang mendengar curhatan dan obrolan kami,hingga matahari tak sempat kami sapa,jalan raya yang sunyi menjadi bagian yang kami ajak untuk menemani,setiap pagi muncul kamipun menghilang diantara kerumunan yang menyapa pagi,kami sudah terbiasa menyapa dengkuran manusia,yang sudah menjadi nyanyian merdu disetiap langkah perjuangan kami menuju singgah yang tak pernah terbaca,setidaknya kami mampu menaklukan malam,sekalipun pagi terabaikan,dan serangan diantara fajar menaklukan lelah kami dalam memikul kenyataan hingga kami menjadi orang yang lemah....

Selasa, 09 Juni 2015

Sebuah Kata

Sebuah kata....
lain pula sebuah makna yang tersirat
Aku berfikir tentang barisan bait yang tegap
Yang maknanya bahkan terlihat gemerlap
Tak mau terjebak...

Sebuah kata....
Yang kufikirkan pun berbeda
Dengan apa yang ku tuliskan
Tak mampu menerka namun mampu merasakan
Tak mau terjebak...

Sebuah kata....
Yang membuatku lemah berbuat
Hanya mampu ku rangkai
Bukan indah sebagai bingkai
Tak mau terjebak...

Sebuah kata...
Mampu menari bersama kehidupan
Yang bercerita dalam serapan
Dan semoga tak terjebak
Hanya dalam keindahan....

Rabu, 03 Juni 2015

Pesan Tersirat

"Jika Tuhan tak menakdirkan kita bersama, mohon ceritakan pada anak-anakmu bahwa pernah ada yang mencintaimu sedalam ini"



Terlewat egoku melihat hal yang samar disekujur tubuhmu,kita berpisah untuk sekian kalinya dengan kata yang paling pahit dipertemuan tak langsung kali ini. Tertidur sendirian dalam mimpi setengah sadar ku mulai merasakan euforia tak sama, tak melihat kesederhanaan sosok perempuan yang kulihat waktu itu, kau terlihat seperti perempuan yang mengerti dunia ini seperti apa, kau tak mampu kujabat tanganmu untuk mengajakmu mencapai tujuan yang kita indahkan bersama, kau memilih jalanmu sendiri,jalan dimana kau mampu menikmati kesenangan apatismu,disini...aku melakukan hal yang ku bisa untuk terus belajar dari rasa sakit,selebihnya kubiarkan Tuhan melakukan bagian yang tak bisa kulakukan untuk mengabulkan isi hati yang terdalam. Dan mungkin hari ini aku akan menjadi selembar surat cinta yang selalu utuh. Bukan karena kau rawat, melainkan karena tak pernah kau sentuh sedikitpun. Pesanku mungkin tersirat bersama dingin yang kau nikmati bersama seseorang yang kau sayangi entah siapapun itu,dan mungkin salamku akan terbagi kedalam lembabnya tanah yang kau injak dan terabaikan.....

Sabtu, 09 Mei 2015

Kapan Kau terakhir Bahagia ?

"Ketika ku harus paksakan semuanya menyolot api yang membakar kaki hingga ubun-ubun,mungkin ku sudah hangus menjadi abu penyesalan"



Kapan terakhir kau bahagia? Dan kapan kau mampu membahagiakan orang lain disaat terakhir kau menatapku sengau seperti nada sumbang ? Kau bagaikan kemungkinan yang selalu aku doakan,bukan penyesalan yang harus ku pendam dan ku hanguskan,kadang air menitik selaik dari pelupuk rindu hingga menuju sendu,namun rindu mencumbu dalam mendung dan dingin menjadi sebuah hal yang ku-ritme-kan bersama ayunan tangan kita,kadang kebahagiaanku terlihat dari caramu memancarkan senyum ke wajahku,tapi kadang sedihku ketika ku tau ada orang lain yang mampu membahagiakanmu selain diriku. Aku tak ingin,biarkan kebahagiaanmu bersamaku abadi layaknya langit berlapis tujuh,bukan seperti embun yang mudah hilang bersama cahaya pagi,terus pegang erat tangan dan peluk dalam peluh ini,semua masalah dalam hujan dan badai hanya bisa kita lalui bersama dalam hati yang seirama. 




Kau yang kurindukan,kau pula yang tak peka,kau yang ku tunggu namun kau terus berpura pura dungu sampai langit sekalipun berwarna ungu...

Kamis, 23 April 2015

Sajak Penutup

"Ada kata-kata ajaib,dan ketika kau mengucapkan tak akan ada satu pun yang merasakan sakit hati. Mereka adalah: terima kasih, maaf, tak apa."



Lembaran pilu terlampaui hari dan berlalu,jejak didasar tanah sudah terguyur hujan hingga tak tau mengalir kemana,seiring berjalannya air,dan berhembusnya angin,ingin ku tutup sajak cinta yang tiap kata ku maknai denganmu,aku menemukan sajak baru yang mungkin telah bersedia didalam relung hatiku,Tuhan berkata sudah saatnya aku harus mengikuti ini,perpisahan yang dirasakan dengan keadaan benci harus keterima pilu,aku ingin melupakanmu sebagaimana kau mampu melupakanku,namun aku tidak membencimu,aku hanya ingin mengenangmu sebagai wanita yang pernah membuat wajah ini bahagia,dan kututup sajak ini dengan selembar pelajaran indah,bahwa aku telah banyak belajar dari panasnya matahari dan pekatnya debu disiang hari,dan kau adalah bagian dari semua yang tak pernah kuingat lagi,semoga kau tenang kenangan...semoga kau juga mampu menjadi penghias masa lampau yang mampu jadi cerita hidup yang sulit tergantikan.





Lelaki penutup sajak

Selasa, 24 Maret 2015

Senyap


"biar kuukir pilumu di persendian hujan. sebagai bulir kesedihan yang menitik selaik air mata tertahan. rebahlah, kudekap lelahmu setelahnya.”

Seharusnya kita adalah mimpi yang terbangun menjadi kenyataan bukan sebagai bayangan mati. Kau masih sama ketika terakhir ku melihatmu, tak ada sinar bintang dan tak ada cahaya bulan. Coba kau sesekali mengamatiku memetik gitar berusaha menghibur diri sendiri tanpamu. Entah sampai kapan aku harus mengakhiri segala sesuatu yang berkaitan tentangmu. Seandainya aku mampu berhenti merindukanmu mungkin aku sudah berlari jauh tanpa menoleh kearahmu,namun sisa sisa dekapanmu masih ada disini. Kapan janjimu akan kau tepati menjadi pemeran utama bersamaku melawan getir hidup. Aku tak pernah melihatmu lagi dipenataran hidupku. Apakah kau benar benar menghilang ? Setidaknya bila kelak ternyata kita hidup dalam rumah yang berbeda tetap kunjungi aku sebagai teman baikmu yang pernah memimpikan sebuah atap bersamamu. Sesekali menengoklah kearahku walaupun sedetik saja,aku hampir lupa lengkuk senyuman wajahmu, biarkan aku melihat itu sesekali dalam hitungan derai nafas yang coba ku hembuskan. Biarkan hatiku sejenak senyap untuk siap mempersatukannya lagi,biarkan senyap ini memberikan pelajaran.....




lelaki yang menantikan seratus bintang untuk menerangi setiap detik senyummu 

Selasa, 17 Februari 2015

Udara dan Inspirasi

Pagi ini matahari terasa cepat meninggi,aku melihat diatas kota sejuk bersama iringan suara hewan yang terselip di rumput liar,ku coba mencari sebuah hal yang indah di balik objek yang tertutup embun dan dingin ini,warna cahaya yang biasa ku sapa kini bukan menjadi hal asing bagiku,cahaya yang biasanya menjadi inspirasiku untuk membayangkan setiap paras indahmu,ku tak pernah temukan wujudmu di tempat ini,kau bagai embun yang menguap lalu hilang entah kemana,sulit ku rangkai ulang ketika kau berubah menjadi udara,aku hanya mampu menghirupmu dan menjadi kau bagian dari nafasku,cahayapun tak pernah menyaksikan bahwa aku ingin menggenggam erat tanganmu di tempat ini,sejuk yang kurasakan sama dengan sejuk saat kau dekap aku saat mataku terpejam,dan ketika ku berada disini ingin ku mulai hal yang dulu pernah terjadi bersamamu,yah inilah anganku yang terlihat lucu dan mustahil,namun ku berbicara pada pemandangan di atas kota ini,bahwa aku berusaha hanya ada untukmu meskipun kita tak pernah saling memiliki,tetapi aku tetap ingat bahwa kau yang pernah membuka ingatan ini,kau inspirasi yang sulit dirangkai dengan bahasa aksara,dan kau inspirasi yang sekarang mulai hilang...




Lelaki yang hidup bersama puing puing nafasmu....

Kamis, 12 Februari 2015

Aku hanyalah Orang Pinggiran

Malam pekat dingin yang menghujam jantung yang kini menjadi berdetak makin cepat,seruan nada mencekam tak dapat lagi ku dengar,aku hanya berdiri di tepi dinding kegelapan dengan suara sumbang. Apakah kau pernah mendengar rintihanku? Mungkin suaraku hanya lantunan tak bermakna yang mungkin tak ada artinya di kedua telingamu,aku hanya orang pinggiran yang kau permainkan hatinya bagaikan ayunan masa kecilmu kadang aku tau aku begitu mudah untuk dirayu dengan kedua bibirmu yang indah bagiku...

Namun,aku hanyalah orang pinggiran yang mengharapkan cinta dari seorang yang tak pernah melihatku dibawah,aku hanya orang yang bekerja tanpa harus di gaji,aku hanyalah orang pinggiran yang menyapu tanpa ada orang menatap iba kepadaku,dan aku adalah orang pinggiran yang mencitaimu tanpa kau tau ketulusan hatiku



Lelaki pinggiran yang terus menunggu dengan keterbatasan kemampuanku untuk terus mencintaimu