Ada keheningan yang kurasakan dari ramainya dentingan hujan berjatuhan. Aku terus menulis harapan-harapan yang terjadi disetiap waktu,musim dan cuaca. Manusia kadang terlalu memaknai kesedihan sehingga lupa bahwa dia pernah bahagia. Namun, kesedihan-kesedihan itupun larut dalam dangkalnya arus kebahagian yang Tuhan tiupkan melaui angin. Kadang aku menulis dalam keegoisanku untuk selalu mengerti perasaanku terhadap setiap tulisan yang kuukir. Aku lupa bahwa aku punya kau sebagai pembaca yang selalu berusaha mengerti apa yang kutulis sekalipun kau menerka-nerka. Aku yang kau anggap sebagai kebahagiaan yang tak pernah terlisankan, aku adalah puisi dan sajak abstrak yang kau tidak pahami sehingga kau menangis ketik harus memahamiku. Kau penerjemah yang handal sekalipun terkaan yang kau ciptakan selalu benar. Kau perangkai kata yang melebihiku karena kata-kata sederhana sering muncul bahkan untuk membuatku tetap berdiri menjadi seorang laki-laki yang tangguh. Aku butuh sedikit saja alasan untuk tersenyum, dan keberadaanmu selalu lebih dari cukup. Tanggal-tanggal rapuh di kalender dinding kamar pasti akan jatuh satu persatu sebagai waktu yang tak bisa memiliki kita. Kita berjanji untuk menyalakan kembali sebuah pelukan, untuk menghangatkan yang gelap dan menerangi yang dingin selama ini. Dan ingatlah Kau tak pernah sendiri, karena aku akan tetap memelukmu, dalam doa sekalipun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar