"Tangkap aku, sebagai serbuk kupu-kupu pada sidik jarimu. Di hari alastu, seharusnya cinta tak selembut itu"
Duduk terdiam sambil mendengar lirihan air mengalir seakan pertemenan bersama sepi semakin akrab. Obrolan singkat bersama cuaca dingin yang selalu setia bergandengan dengan angin yang menyentuh tanaman hias, kali ini aku merasa sepi dalam kesendirianku sebagai manusia namun ku tak pernah sendiri sebagai hakikat makhluk yang diciptakan Penguasa. Kenikmatan pejaman mata dan hamparan cahaya bulan setengah sempurna semakin membuat diri ini di ambang kebebasan tak terkira. Langit malam terus bergerak seperti ingin menipu ku bahwa malam ini sangat indah untuk diingat. Seandainya cinta yang ku rasakan selembut apa yang sudah ku deskripsikan seperti angin,langit, dan bulan mungkin senyumanku tak akan lepas seperti dulu. Hanya mampu merebahkan diri dan mengingat keindahan dulu dan berusaha bersyukur atas keindahan-keindahan baru yang mungkin belum siap menggantikan keindahan-keindahan sebelumnya...