Jumat, 27 November 2015

Senyuman

 

"Beberapa saat menatapmu sambil tersenyum,dan salah satunya adalah aku yang memaknai itu sangat indah"



Tuhan selalu mampu mempertemukan manusia dalam detik yang abstrak,keadaan yang tak terduga,dan bahkan ketika kita tidak siap untuk menerima itu, manusia kadang bingung atas kebahagiaan yang dia nikmati, mungkin pertemuan paras pendek yang terlintas melalui pandangan yang sayu membuatku sekarang justru ingin terbawa dalam penentuan kisah yang kau tentukan,aku tidak perlu harus berpura-pura mendeskripsikan karakter dan parasmu yang tak mampu ku lisankan, kecantikan adalah sumber alamiah dari nikmat Tuhan yang diturunkan melalui goresan dan lekuk senyumanmu, kau hanya tinggal bersyukur atas apa yang kau dapat dan terus bahagiakan dirimu, dalam bayangan dirimu yang tersenyum seakan berkelana di otak,dan itu semakin mendominasi perasaan daripada logika, mungkin tulisan-tulisan dan goresan-goresan tinta yang buram tidak sepatutnya harus berbicara,sesekali aku membayangkan kau mau mendekap sela-sela jariku yang kosong ini, atau itu akan menjadi hal yang khayal ? Yah mungkin aku terlalu berlebihan dalam berimajinasi,kadang aku lupa diri, namun biarkan itu menjadi rahasia kehidupan yang dijawab oleh keadaan yang tak tertentu,ataukah itu mampu dijawab kau yang mengalami hal yang sama dengan goresan sebelum kalimat ini,selamat menikmati anugerah Tuhan,selamat mensyukuri keindahan-keindahan di lekuk bibirmu,semoga itu tak pernah hilang walau hanya sesekali :)

Senin, 16 November 2015

Kepergian yang Pergi


"Ada yang harus kita pelajari dari sebuah kehilangan,dan yang kita harus maknai dari sebuah kepergian"


Perlahan turun udara senyap malam yang menjadi kenikmatan,kepulan asap penghangat yang baru saja ku hembuskan membuat aku melamunkan tentang sebuah kepergian yang pergi. Dari seseorang yang tak selalu bersyukur,dan dari seseorang yang tak pernah belajar bahwa kesalahan adalah tamparan keras untuk selalu membuatmu terus berlaku benar. Aku belajar dari sebuah kepergian yang pergi entah dia berjanji ataupun dia hanya bergumam tentang penantian yang dia anggap panjang dan menurutku mustahil, teriakan teriakan peredam kuping yang merusak gendang telinga tentang sebuah bahasa bahasa penyejuk hati, yang kulihat hanya akan menjadi kata-kata utopis untuk selalu dimaknai dan diingat. Aku memaknai sebuah kepergian yang pergi tentang tujuan yang masih di rajut Tuhan, tentang manusia yang menaruh harapan pada ekspektasi yang jelas masih belum bisa terbukti, mungkin angkuhnya aku dan naifnya kau menjadi hal-hal yang tidak bisa kita persatukan. Pelajaran -pelajaran yang kita jadikan sebagai empiris tidak menjadikan kita kedua insan yang terus memperbaiki diri. Pergilah dari sebuah kepergian,kita nantikan hal yang kau dapat dan apa yang akan kau bawa kembali....