Jumat, 25 Desember 2015

Cinta

Aku ingin melangkah
Ketika perjalan yang ku lalui mulai lelah
angin dan matahari semakin mejajah
Didalam tidur,pelukanmu menjadi hadiah
Jaring-jaring prasangka, 
sekat-sekat ketidakpercayaan
Pemersatu angan dan impian
Saling menyayangi
Saling menjaga
Dan akan terus saling menguatkan
Cinta.

Sabtu, 19 Desember 2015

Coretan Kanvas




"Entah malam keberapa, aku menyebut namamu dalam diam. Berusaha mengapungkan rindu yang karam."


Aku ingin mengistirahatkan ingatanku dalam sebuah lukisan kehidupan yang baru dari kanvas yang belum tercoret oleh kuas. Dan coba ku mulai goresan-goresan yang kadang bermakna sesekalipun juga tidak, aku melihat coretan yang kuperbuat karena kesalahanku,seseorang mulai mencibirnya perlahan. Harus beberapa sering aku memaknai kau sebagai pelurus coretan-coretan yang kuperbuat,kebingungan yang kuperbuat membuatku hampir tidak menyelesaikan lukisanku,kau ada bersamaku untuk menyelesaikan coretan di kanvas kosong itu, sesekali kau berada dibelakangku memelukku hingga aku tau bahwa kehidupan bukan sekedar menilai bahwa kita harus selalu menjadi yang terbaik untuk mereka, mari kita pergi. perihal waktu singkat, aku ingin kau selalu mendekapku dalam ketenangan hidup,dalam setiap pejam semoga aku mampu menjadi yang kau cari setelah mata itu terbuka, semoga pagi menjadi kawan yang menemaniku menjagamu sampai kau terbangun, biarkan kanvas itu menjadi coretan indah yang kau dan aku lukis bersama. Aku tidak ahli dalam hal itu,aku selalu membuat kesalahan pada beberapa coretan dan kau pun mampu mengindahkan itu. Kata Tuhan, kesalahan adalah bagian dari cara kita memperjuangkan sesuatu. Aku bingung sebab aku tak mampu menjelaskan kenapa aku begitu mencintaimu. Karena aku punya banyak kata-kata syukur yang sepertinya hanya pantas untuk kusandingkan dengan namamu. Tinggallah lebih lama, menemukanmu butuh waktu yang tak sebentar. 

Minggu, 13 Desember 2015

Tulisan Desember



"Desember memasuki kamarmu, membawa secangkir teh, lalu duduk temanimu merayakan rindu."


Ada keheningan yang kurasakan dari ramainya dentingan hujan berjatuhan. Aku terus menulis harapan-harapan yang terjadi disetiap waktu,musim dan cuaca. Manusia kadang terlalu memaknai kesedihan sehingga lupa bahwa dia pernah bahagia. Namun, kesedihan-kesedihan itupun larut dalam dangkalnya arus kebahagian yang Tuhan tiupkan melaui angin. Kadang aku menulis dalam keegoisanku untuk selalu mengerti perasaanku terhadap setiap tulisan yang kuukir. Aku lupa bahwa aku punya kau sebagai pembaca yang selalu berusaha mengerti apa yang kutulis sekalipun kau menerka-nerka. Aku yang kau anggap sebagai kebahagiaan yang tak pernah terlisankan, aku adalah puisi dan sajak abstrak yang kau tidak pahami sehingga kau menangis ketik harus memahamiku. Kau penerjemah yang handal sekalipun terkaan yang kau ciptakan selalu benar. Kau perangkai kata yang melebihiku karena kata-kata sederhana sering muncul bahkan untuk membuatku tetap berdiri menjadi seorang laki-laki yang tangguh. Aku butuh sedikit saja alasan untuk tersenyum, dan keberadaanmu selalu lebih dari cukup. Tanggal-tanggal rapuh di kalender dinding kamar pasti akan jatuh satu persatu sebagai waktu yang tak bisa memiliki kita. Kita berjanji untuk menyalakan kembali sebuah pelukan, untuk menghangatkan yang gelap dan menerangi yang dingin selama ini. Dan ingatlah Kau tak pernah sendiri, karena aku akan tetap memelukmu, dalam doa sekalipun.