"Entah malam keberapa, aku menyebut namamu dalam diam. Berusaha mengapungkan rindu yang karam."
Aku ingin mengistirahatkan ingatanku dalam sebuah lukisan kehidupan yang baru dari kanvas yang belum tercoret oleh kuas. Dan coba ku mulai goresan-goresan yang kadang bermakna sesekalipun juga tidak, aku melihat coretan yang kuperbuat karena kesalahanku,seseorang mulai mencibirnya perlahan. Harus beberapa sering aku memaknai kau sebagai pelurus coretan-coretan yang kuperbuat,kebingungan yang kuperbuat membuatku hampir tidak menyelesaikan lukisanku,kau ada bersamaku untuk menyelesaikan coretan di kanvas kosong itu, sesekali kau berada dibelakangku memelukku hingga aku tau bahwa kehidupan bukan sekedar menilai bahwa kita harus selalu menjadi yang terbaik untuk mereka, mari kita pergi. perihal waktu singkat, aku ingin kau selalu mendekapku dalam ketenangan hidup,dalam setiap pejam semoga aku mampu menjadi yang kau cari setelah mata itu terbuka, semoga pagi menjadi kawan yang menemaniku menjagamu sampai kau terbangun, biarkan kanvas itu menjadi coretan indah yang kau dan aku lukis bersama. Aku tidak ahli dalam hal itu,aku selalu membuat kesalahan pada beberapa coretan dan kau pun mampu mengindahkan itu. Kata Tuhan, kesalahan adalah bagian dari cara kita memperjuangkan sesuatu. Aku bingung sebab aku tak mampu menjelaskan kenapa aku begitu mencintaimu. Karena aku punya banyak kata-kata syukur yang sepertinya hanya pantas untuk kusandingkan dengan namamu. Tinggallah lebih lama, menemukanmu butuh waktu yang tak sebentar.