Selasa, 24 Maret 2015

Senyap


"biar kuukir pilumu di persendian hujan. sebagai bulir kesedihan yang menitik selaik air mata tertahan. rebahlah, kudekap lelahmu setelahnya.”

Seharusnya kita adalah mimpi yang terbangun menjadi kenyataan bukan sebagai bayangan mati. Kau masih sama ketika terakhir ku melihatmu, tak ada sinar bintang dan tak ada cahaya bulan. Coba kau sesekali mengamatiku memetik gitar berusaha menghibur diri sendiri tanpamu. Entah sampai kapan aku harus mengakhiri segala sesuatu yang berkaitan tentangmu. Seandainya aku mampu berhenti merindukanmu mungkin aku sudah berlari jauh tanpa menoleh kearahmu,namun sisa sisa dekapanmu masih ada disini. Kapan janjimu akan kau tepati menjadi pemeran utama bersamaku melawan getir hidup. Aku tak pernah melihatmu lagi dipenataran hidupku. Apakah kau benar benar menghilang ? Setidaknya bila kelak ternyata kita hidup dalam rumah yang berbeda tetap kunjungi aku sebagai teman baikmu yang pernah memimpikan sebuah atap bersamamu. Sesekali menengoklah kearahku walaupun sedetik saja,aku hampir lupa lengkuk senyuman wajahmu, biarkan aku melihat itu sesekali dalam hitungan derai nafas yang coba ku hembuskan. Biarkan hatiku sejenak senyap untuk siap mempersatukannya lagi,biarkan senyap ini memberikan pelajaran.....




lelaki yang menantikan seratus bintang untuk menerangi setiap detik senyummu