Rabu, 10 Februari 2016

Ego Menelan Ego


Kita terlalu banyak berdalih dengan waktu
Dalam tawa maupun tangis
Sekiranya kenangan indah mengikis
Akal merasa benar 
Namun hati serasa ditampar
Jauh sekali aku mengayunkan tangan
Berceloteh tentang harapan
Apa yang kau telan
Itu yang ku telan
Kau memaki diri,aku memujimu
Aku rendahkan diri,kau tinggikan anganmu
Cerita kita tersekat ambisi 
Melupakan tujuan dalam transisi
Menumpah gelisah dan serba salah
Sekalipun sedih itu mati
Dia seakan mampu hidup
Dalam ucapan yang menusuk...EGO!

Jumat, 25 Desember 2015

Cinta

Aku ingin melangkah
Ketika perjalan yang ku lalui mulai lelah
angin dan matahari semakin mejajah
Didalam tidur,pelukanmu menjadi hadiah
Jaring-jaring prasangka, 
sekat-sekat ketidakpercayaan
Pemersatu angan dan impian
Saling menyayangi
Saling menjaga
Dan akan terus saling menguatkan
Cinta.

Sabtu, 19 Desember 2015

Coretan Kanvas




"Entah malam keberapa, aku menyebut namamu dalam diam. Berusaha mengapungkan rindu yang karam."


Aku ingin mengistirahatkan ingatanku dalam sebuah lukisan kehidupan yang baru dari kanvas yang belum tercoret oleh kuas. Dan coba ku mulai goresan-goresan yang kadang bermakna sesekalipun juga tidak, aku melihat coretan yang kuperbuat karena kesalahanku,seseorang mulai mencibirnya perlahan. Harus beberapa sering aku memaknai kau sebagai pelurus coretan-coretan yang kuperbuat,kebingungan yang kuperbuat membuatku hampir tidak menyelesaikan lukisanku,kau ada bersamaku untuk menyelesaikan coretan di kanvas kosong itu, sesekali kau berada dibelakangku memelukku hingga aku tau bahwa kehidupan bukan sekedar menilai bahwa kita harus selalu menjadi yang terbaik untuk mereka, mari kita pergi. perihal waktu singkat, aku ingin kau selalu mendekapku dalam ketenangan hidup,dalam setiap pejam semoga aku mampu menjadi yang kau cari setelah mata itu terbuka, semoga pagi menjadi kawan yang menemaniku menjagamu sampai kau terbangun, biarkan kanvas itu menjadi coretan indah yang kau dan aku lukis bersama. Aku tidak ahli dalam hal itu,aku selalu membuat kesalahan pada beberapa coretan dan kau pun mampu mengindahkan itu. Kata Tuhan, kesalahan adalah bagian dari cara kita memperjuangkan sesuatu. Aku bingung sebab aku tak mampu menjelaskan kenapa aku begitu mencintaimu. Karena aku punya banyak kata-kata syukur yang sepertinya hanya pantas untuk kusandingkan dengan namamu. Tinggallah lebih lama, menemukanmu butuh waktu yang tak sebentar. 

Minggu, 13 Desember 2015

Tulisan Desember



"Desember memasuki kamarmu, membawa secangkir teh, lalu duduk temanimu merayakan rindu."


Ada keheningan yang kurasakan dari ramainya dentingan hujan berjatuhan. Aku terus menulis harapan-harapan yang terjadi disetiap waktu,musim dan cuaca. Manusia kadang terlalu memaknai kesedihan sehingga lupa bahwa dia pernah bahagia. Namun, kesedihan-kesedihan itupun larut dalam dangkalnya arus kebahagian yang Tuhan tiupkan melaui angin. Kadang aku menulis dalam keegoisanku untuk selalu mengerti perasaanku terhadap setiap tulisan yang kuukir. Aku lupa bahwa aku punya kau sebagai pembaca yang selalu berusaha mengerti apa yang kutulis sekalipun kau menerka-nerka. Aku yang kau anggap sebagai kebahagiaan yang tak pernah terlisankan, aku adalah puisi dan sajak abstrak yang kau tidak pahami sehingga kau menangis ketik harus memahamiku. Kau penerjemah yang handal sekalipun terkaan yang kau ciptakan selalu benar. Kau perangkai kata yang melebihiku karena kata-kata sederhana sering muncul bahkan untuk membuatku tetap berdiri menjadi seorang laki-laki yang tangguh. Aku butuh sedikit saja alasan untuk tersenyum, dan keberadaanmu selalu lebih dari cukup. Tanggal-tanggal rapuh di kalender dinding kamar pasti akan jatuh satu persatu sebagai waktu yang tak bisa memiliki kita. Kita berjanji untuk menyalakan kembali sebuah pelukan, untuk menghangatkan yang gelap dan menerangi yang dingin selama ini. Dan ingatlah Kau tak pernah sendiri, karena aku akan tetap memelukmu, dalam doa sekalipun.

Jumat, 27 November 2015

Senyuman

 

"Beberapa saat menatapmu sambil tersenyum,dan salah satunya adalah aku yang memaknai itu sangat indah"



Tuhan selalu mampu mempertemukan manusia dalam detik yang abstrak,keadaan yang tak terduga,dan bahkan ketika kita tidak siap untuk menerima itu, manusia kadang bingung atas kebahagiaan yang dia nikmati, mungkin pertemuan paras pendek yang terlintas melalui pandangan yang sayu membuatku sekarang justru ingin terbawa dalam penentuan kisah yang kau tentukan,aku tidak perlu harus berpura-pura mendeskripsikan karakter dan parasmu yang tak mampu ku lisankan, kecantikan adalah sumber alamiah dari nikmat Tuhan yang diturunkan melalui goresan dan lekuk senyumanmu, kau hanya tinggal bersyukur atas apa yang kau dapat dan terus bahagiakan dirimu, dalam bayangan dirimu yang tersenyum seakan berkelana di otak,dan itu semakin mendominasi perasaan daripada logika, mungkin tulisan-tulisan dan goresan-goresan tinta yang buram tidak sepatutnya harus berbicara,sesekali aku membayangkan kau mau mendekap sela-sela jariku yang kosong ini, atau itu akan menjadi hal yang khayal ? Yah mungkin aku terlalu berlebihan dalam berimajinasi,kadang aku lupa diri, namun biarkan itu menjadi rahasia kehidupan yang dijawab oleh keadaan yang tak tertentu,ataukah itu mampu dijawab kau yang mengalami hal yang sama dengan goresan sebelum kalimat ini,selamat menikmati anugerah Tuhan,selamat mensyukuri keindahan-keindahan di lekuk bibirmu,semoga itu tak pernah hilang walau hanya sesekali :)

Senin, 16 November 2015

Kepergian yang Pergi


"Ada yang harus kita pelajari dari sebuah kehilangan,dan yang kita harus maknai dari sebuah kepergian"


Perlahan turun udara senyap malam yang menjadi kenikmatan,kepulan asap penghangat yang baru saja ku hembuskan membuat aku melamunkan tentang sebuah kepergian yang pergi. Dari seseorang yang tak selalu bersyukur,dan dari seseorang yang tak pernah belajar bahwa kesalahan adalah tamparan keras untuk selalu membuatmu terus berlaku benar. Aku belajar dari sebuah kepergian yang pergi entah dia berjanji ataupun dia hanya bergumam tentang penantian yang dia anggap panjang dan menurutku mustahil, teriakan teriakan peredam kuping yang merusak gendang telinga tentang sebuah bahasa bahasa penyejuk hati, yang kulihat hanya akan menjadi kata-kata utopis untuk selalu dimaknai dan diingat. Aku memaknai sebuah kepergian yang pergi tentang tujuan yang masih di rajut Tuhan, tentang manusia yang menaruh harapan pada ekspektasi yang jelas masih belum bisa terbukti, mungkin angkuhnya aku dan naifnya kau menjadi hal-hal yang tidak bisa kita persatukan. Pelajaran -pelajaran yang kita jadikan sebagai empiris tidak menjadikan kita kedua insan yang terus memperbaiki diri. Pergilah dari sebuah kepergian,kita nantikan hal yang kau dapat dan apa yang akan kau bawa kembali....

Kamis, 08 Oktober 2015

Deskripsi Alam

"Tangkap aku, sebagai serbuk kupu-kupu pada sidik jarimu. Di hari alastu, seharusnya cinta tak selembut itu"


Duduk terdiam sambil mendengar lirihan air mengalir seakan pertemenan bersama sepi semakin akrab. Obrolan singkat bersama cuaca dingin yang selalu setia bergandengan dengan angin yang menyentuh tanaman hias, kali ini aku merasa sepi dalam kesendirianku sebagai manusia namun ku tak pernah sendiri sebagai hakikat makhluk yang diciptakan Penguasa. Kenikmatan pejaman mata dan hamparan cahaya bulan setengah sempurna semakin membuat diri ini di ambang kebebasan tak terkira. Langit malam terus bergerak seperti ingin menipu ku bahwa malam ini sangat indah untuk diingat. Seandainya cinta yang ku rasakan selembut apa yang sudah ku deskripsikan seperti angin,langit, dan bulan mungkin senyumanku tak akan lepas seperti dulu. Hanya mampu merebahkan diri dan mengingat keindahan dulu dan berusaha bersyukur atas keindahan-keindahan baru yang mungkin belum siap menggantikan keindahan-keindahan sebelumnya...