Minggu, 06 September 2015

Aku Pernah Percaya



"pada kali pertama saat kau memintaku untuk tetap tinggal dan bertahan, aku memutuskan untuk tidak pergi dan selalu berdekatan"



Aku pernah percaya bahwa pertemuan yang diciptakan Tuhan bukan sebagai awal kekecewaan yang terus menderu, lihat ketika hari-hari yang penuh tetesan air mata,yang kau butuhkan bukan seseorang yang sepertiku yang mampu mencekoki kesedihan yang membuatmu muntah dalam ketidakbahagiaanmu sebagai orang yang kukasihi. Aku pernah percaya bahwa hanya kau yang mampu ku cintai,namun terkadang keyakinan yang kau punya mampu dipatahkan. Langkah jejak yang kita buat di setapakpun semakin bertolak belakang.tanpa menoleh dan tanpa saling menyapa. Aku merindukan kenangan bukan merindukan penyesalan dan sekalipun itu kembali itu hanya menjadi kisah manis yang hanya mampu kita mimpikan. Lelaki yang sekarang kau percaya sebagai pelabuhanmu seakan menjadi titik terang yang kau punya untuk menerangi hatimu yang suram bersamaku. Cinta kadang abstraksi,dan penuh tanda tanya. Dia ricuh sekali dalam singgah di penempatan hati, tak memandang siapapun dan kapanpun. Aku pernah percaya bahwa akhirnya kita sebagai manusia yang saling berantagonis satu sama lain. Melalaikan perasaan yang sudah ada dan menguatkan ego untuk saling mengalahkan. Tuhan menawarkan pilihan baru untukmu. Pergi sejauh mungkin hingga aku tak mampu mengenalmu sebagai paras yang kuanggap indah. Dan aku pernah percaya ketika kau pergi waktu sudah memberikan kesimpulan yang menjawab semua penantian yang kuanggap sia-sia....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar