Minggu, 05 Juli 2015

Jalanan Masa Kecil


"Berdebu namun tidak terlalu sukar untuk kuhirup karena sebagian kenangan ditempat ini ku nikmati bersamanya. Kawan"


Kami menyusuri langkah demi langkah dalam keceriaan bersama,bukan karena kami senang. Karena kami tau kebahagiaan sesungguhnya hanya ketika aku dan kau saling berbagi. Lucu ketika ku tau kita telah tumbuh dewasa yang sudah tau apa arti hidup ini,berbeda dimasa kita dulu,yang selalu kita habiskan di sepanjang jalan ini. Bermain,tertawa,dan terjatuh seolah2 aspal yang hitam ini sudah menjadi sahabat kami dimasa kecil,panas yang kami rasakan ketika tidak menggunakan alas kaki seakan sudah bersahabat dengan kami. Lampu redup yang pecah karena ulah kami. Menjadi saksi kenakalan kami masa itu. Akankah kau menemukan manusia kecil pembuat onar seperti kami kala itu ? kami rindu jalanan yang menghidupi masa kecil kami,yang selalu menjadi mata dalam setiap keceriaan kami. Kala itu.....

Minggu, 21 Juni 2015

Perspektif

"Mungkin kebersamaan kita adalah kebahagiaan yang Tuhan tangguhkan. Atas doa-doa kebaikan yang dulunya aku dan kau panjatkan"


Kadang bersemi kadang pula gugur terbawa angin,kadang juga tak terasa jika sudah pergi,mungkin kita belum bisa belajar dari kesedihan yang berlalu,juga perspektif kita masih dalam sanubari individualis yang termakan egosentris,kicauan cerca yang kita ejawantahkan menjadi perlakuan yang tidak seharusnya,membuat kita semakin kehilangan kedewasaan,entah sampai lama kau akan duduk sendiri dipojokan sambil menunduk dan meneteskan air mata,dan kau terus membungkam mulutmu dengan kekesalan dan kebencian yang kau ciptakan untukku,kita tidak berani saling menatap,apalagi saling menyapa senyum. sejauh mata memandang hanya bentuk tubuh yang terlihat tanpa aku mampu mendekat bahkan memberikan sapaan untukmu,mungkin kodrati yang terlalu kaku atau kita yang terpaksa melawan semua itu ? Biarkan perspektif menari dalam setiap prasangka baik yang ku muncul kan dalam relung pikiran,biarkan mengalir deras hingga terbukti bahwa Tuhan memanggil kita hanya untuk pertemuan kah ? Atau memang lebih dari sekedar bersama dan memiliki untuk selamanya....

Sabtu, 13 Juni 2015

Nokturnal




"Bersama malam kan kubawa mimpiku menilisik jejak perjuangan hingga tetesan keringat kering dan sampai tulang belulang menjadi retakan"



Aku hidup di malam gelap gulita,ketika semua mata hanya menyapa imajinasi belaka dalam kantuk,aku masih berpapasan dengan hidup yang dianggap nyata,setiap dingin yang kutempuh bersama sejawat,itu lah yang kami kisahkan,tentang kenapa semua bisa terjadi,kami tidak hidup normal,melainkan yang mati dalam kebiasaan manusia pada umumnya,bulan kadang mendengar curhatan dan obrolan kami,hingga matahari tak sempat kami sapa,jalan raya yang sunyi menjadi bagian yang kami ajak untuk menemani,setiap pagi muncul kamipun menghilang diantara kerumunan yang menyapa pagi,kami sudah terbiasa menyapa dengkuran manusia,yang sudah menjadi nyanyian merdu disetiap langkah perjuangan kami menuju singgah yang tak pernah terbaca,setidaknya kami mampu menaklukan malam,sekalipun pagi terabaikan,dan serangan diantara fajar menaklukan lelah kami dalam memikul kenyataan hingga kami menjadi orang yang lemah....

Selasa, 09 Juni 2015

Sebuah Kata

Sebuah kata....
lain pula sebuah makna yang tersirat
Aku berfikir tentang barisan bait yang tegap
Yang maknanya bahkan terlihat gemerlap
Tak mau terjebak...

Sebuah kata....
Yang kufikirkan pun berbeda
Dengan apa yang ku tuliskan
Tak mampu menerka namun mampu merasakan
Tak mau terjebak...

Sebuah kata....
Yang membuatku lemah berbuat
Hanya mampu ku rangkai
Bukan indah sebagai bingkai
Tak mau terjebak...

Sebuah kata...
Mampu menari bersama kehidupan
Yang bercerita dalam serapan
Dan semoga tak terjebak
Hanya dalam keindahan....

Rabu, 03 Juni 2015

Pesan Tersirat

"Jika Tuhan tak menakdirkan kita bersama, mohon ceritakan pada anak-anakmu bahwa pernah ada yang mencintaimu sedalam ini"



Terlewat egoku melihat hal yang samar disekujur tubuhmu,kita berpisah untuk sekian kalinya dengan kata yang paling pahit dipertemuan tak langsung kali ini. Tertidur sendirian dalam mimpi setengah sadar ku mulai merasakan euforia tak sama, tak melihat kesederhanaan sosok perempuan yang kulihat waktu itu, kau terlihat seperti perempuan yang mengerti dunia ini seperti apa, kau tak mampu kujabat tanganmu untuk mengajakmu mencapai tujuan yang kita indahkan bersama, kau memilih jalanmu sendiri,jalan dimana kau mampu menikmati kesenangan apatismu,disini...aku melakukan hal yang ku bisa untuk terus belajar dari rasa sakit,selebihnya kubiarkan Tuhan melakukan bagian yang tak bisa kulakukan untuk mengabulkan isi hati yang terdalam. Dan mungkin hari ini aku akan menjadi selembar surat cinta yang selalu utuh. Bukan karena kau rawat, melainkan karena tak pernah kau sentuh sedikitpun. Pesanku mungkin tersirat bersama dingin yang kau nikmati bersama seseorang yang kau sayangi entah siapapun itu,dan mungkin salamku akan terbagi kedalam lembabnya tanah yang kau injak dan terabaikan.....

Sabtu, 09 Mei 2015

Kapan Kau terakhir Bahagia ?

"Ketika ku harus paksakan semuanya menyolot api yang membakar kaki hingga ubun-ubun,mungkin ku sudah hangus menjadi abu penyesalan"



Kapan terakhir kau bahagia? Dan kapan kau mampu membahagiakan orang lain disaat terakhir kau menatapku sengau seperti nada sumbang ? Kau bagaikan kemungkinan yang selalu aku doakan,bukan penyesalan yang harus ku pendam dan ku hanguskan,kadang air menitik selaik dari pelupuk rindu hingga menuju sendu,namun rindu mencumbu dalam mendung dan dingin menjadi sebuah hal yang ku-ritme-kan bersama ayunan tangan kita,kadang kebahagiaanku terlihat dari caramu memancarkan senyum ke wajahku,tapi kadang sedihku ketika ku tau ada orang lain yang mampu membahagiakanmu selain diriku. Aku tak ingin,biarkan kebahagiaanmu bersamaku abadi layaknya langit berlapis tujuh,bukan seperti embun yang mudah hilang bersama cahaya pagi,terus pegang erat tangan dan peluk dalam peluh ini,semua masalah dalam hujan dan badai hanya bisa kita lalui bersama dalam hati yang seirama. 




Kau yang kurindukan,kau pula yang tak peka,kau yang ku tunggu namun kau terus berpura pura dungu sampai langit sekalipun berwarna ungu...

Kamis, 23 April 2015

Sajak Penutup

"Ada kata-kata ajaib,dan ketika kau mengucapkan tak akan ada satu pun yang merasakan sakit hati. Mereka adalah: terima kasih, maaf, tak apa."



Lembaran pilu terlampaui hari dan berlalu,jejak didasar tanah sudah terguyur hujan hingga tak tau mengalir kemana,seiring berjalannya air,dan berhembusnya angin,ingin ku tutup sajak cinta yang tiap kata ku maknai denganmu,aku menemukan sajak baru yang mungkin telah bersedia didalam relung hatiku,Tuhan berkata sudah saatnya aku harus mengikuti ini,perpisahan yang dirasakan dengan keadaan benci harus keterima pilu,aku ingin melupakanmu sebagaimana kau mampu melupakanku,namun aku tidak membencimu,aku hanya ingin mengenangmu sebagai wanita yang pernah membuat wajah ini bahagia,dan kututup sajak ini dengan selembar pelajaran indah,bahwa aku telah banyak belajar dari panasnya matahari dan pekatnya debu disiang hari,dan kau adalah bagian dari semua yang tak pernah kuingat lagi,semoga kau tenang kenangan...semoga kau juga mampu menjadi penghias masa lampau yang mampu jadi cerita hidup yang sulit tergantikan.





Lelaki penutup sajak