Ada keheningan yang kurasakan dari ramainya dentingan hujan berjatuhan. Aku terus menulis harapan-harapan yang terjadi disetiap waktu,musim dan cuaca. Manusia kadang terlalu memaknai kesedihan sehingga lupa bahwa dia pernah bahagia. Namun, kesedihan-kesedihan itupun larut dalam dangkalnya arus kebahagian yang Tuhan tiupkan melaui angin. Kadang aku menulis dalam keegoisanku untuk selalu mengerti perasaanku terhadap setiap tulisan yang kuukir. Aku lupa bahwa aku punya kau sebagai pembaca yang selalu berusaha mengerti apa yang kutulis sekalipun kau menerka-nerka. Aku yang kau anggap sebagai kebahagiaan yang tak pernah terlisankan, aku adalah puisi dan sajak abstrak yang kau tidak pahami sehingga kau menangis ketik harus memahamiku. Kau penerjemah yang handal sekalipun terkaan yang kau ciptakan selalu benar. Kau perangkai kata yang melebihiku karena kata-kata sederhana sering muncul bahkan untuk membuatku tetap berdiri menjadi seorang laki-laki yang tangguh. Aku butuh sedikit saja alasan untuk tersenyum, dan keberadaanmu selalu lebih dari cukup. Tanggal-tanggal rapuh di kalender dinding kamar pasti akan jatuh satu persatu sebagai waktu yang tak bisa memiliki kita. Kita berjanji untuk menyalakan kembali sebuah pelukan, untuk menghangatkan yang gelap dan menerangi yang dingin selama ini. Dan ingatlah Kau tak pernah sendiri, karena aku akan tetap memelukmu, dalam doa sekalipun.
Minggu, 13 Desember 2015
Tulisan Desember
Jumat, 27 November 2015
Senyuman
"Beberapa saat menatapmu sambil tersenyum,dan salah satunya adalah aku yang memaknai itu sangat indah"
Tuhan selalu mampu mempertemukan manusia dalam detik yang abstrak,keadaan yang tak terduga,dan bahkan ketika kita tidak siap untuk menerima itu, manusia kadang bingung atas kebahagiaan yang dia nikmati, mungkin pertemuan paras pendek yang terlintas melalui pandangan yang sayu membuatku sekarang justru ingin terbawa dalam penentuan kisah yang kau tentukan,aku tidak perlu harus berpura-pura mendeskripsikan karakter dan parasmu yang tak mampu ku lisankan, kecantikan adalah sumber alamiah dari nikmat Tuhan yang diturunkan melalui goresan dan lekuk senyumanmu, kau hanya tinggal bersyukur atas apa yang kau dapat dan terus bahagiakan dirimu, dalam bayangan dirimu yang tersenyum seakan berkelana di otak,dan itu semakin mendominasi perasaan daripada logika, mungkin tulisan-tulisan dan goresan-goresan tinta yang buram tidak sepatutnya harus berbicara,sesekali aku membayangkan kau mau mendekap sela-sela jariku yang kosong ini, atau itu akan menjadi hal yang khayal ? Yah mungkin aku terlalu berlebihan dalam berimajinasi,kadang aku lupa diri, namun biarkan itu menjadi rahasia kehidupan yang dijawab oleh keadaan yang tak tertentu,ataukah itu mampu dijawab kau yang mengalami hal yang sama dengan goresan sebelum kalimat ini,selamat menikmati anugerah Tuhan,selamat mensyukuri keindahan-keindahan di lekuk bibirmu,semoga itu tak pernah hilang walau hanya sesekali :)
Senin, 16 November 2015
Kepergian yang Pergi
Perlahan turun udara senyap malam yang menjadi kenikmatan,kepulan asap penghangat yang baru saja ku hembuskan membuat aku melamunkan tentang sebuah kepergian yang pergi. Dari seseorang yang tak selalu bersyukur,dan dari seseorang yang tak pernah belajar bahwa kesalahan adalah tamparan keras untuk selalu membuatmu terus berlaku benar. Aku belajar dari sebuah kepergian yang pergi entah dia berjanji ataupun dia hanya bergumam tentang penantian yang dia anggap panjang dan menurutku mustahil, teriakan teriakan peredam kuping yang merusak gendang telinga tentang sebuah bahasa bahasa penyejuk hati, yang kulihat hanya akan menjadi kata-kata utopis untuk selalu dimaknai dan diingat. Aku memaknai sebuah kepergian yang pergi tentang tujuan yang masih di rajut Tuhan, tentang manusia yang menaruh harapan pada ekspektasi yang jelas masih belum bisa terbukti, mungkin angkuhnya aku dan naifnya kau menjadi hal-hal yang tidak bisa kita persatukan. Pelajaran -pelajaran yang kita jadikan sebagai empiris tidak menjadikan kita kedua insan yang terus memperbaiki diri. Pergilah dari sebuah kepergian,kita nantikan hal yang kau dapat dan apa yang akan kau bawa kembali....
Kamis, 08 Oktober 2015
Deskripsi Alam
"Tangkap aku, sebagai serbuk kupu-kupu pada sidik jarimu. Di hari alastu, seharusnya cinta tak selembut itu"
Duduk terdiam sambil mendengar lirihan air mengalir seakan pertemenan bersama sepi semakin akrab. Obrolan singkat bersama cuaca dingin yang selalu setia bergandengan dengan angin yang menyentuh tanaman hias, kali ini aku merasa sepi dalam kesendirianku sebagai manusia namun ku tak pernah sendiri sebagai hakikat makhluk yang diciptakan Penguasa. Kenikmatan pejaman mata dan hamparan cahaya bulan setengah sempurna semakin membuat diri ini di ambang kebebasan tak terkira. Langit malam terus bergerak seperti ingin menipu ku bahwa malam ini sangat indah untuk diingat. Seandainya cinta yang ku rasakan selembut apa yang sudah ku deskripsikan seperti angin,langit, dan bulan mungkin senyumanku tak akan lepas seperti dulu. Hanya mampu merebahkan diri dan mengingat keindahan dulu dan berusaha bersyukur atas keindahan-keindahan baru yang mungkin belum siap menggantikan keindahan-keindahan sebelumnya...
Rabu, 23 September 2015
Hawa
"Tersenyumlah... sebab barangkali, diluar sana ada yang jatuh cinta, saat melihatmu tersenyum"
Kali ini aku bercerita tentang perempuan yang sulit dilisankan kecantikannya dan parasnya. Pertemuan kami yang sederhana dan ucapan sapa yang lirih dituliskan dalam bentuk senyuman yang terhias di lekuk wajahnya. Entah mengapa jadi sedikit bingung terhadap pertemuan ini. Atau memang sikap yang menjadi tak menentu. Semoga saja Tuhan ikut andil dalam pertemuan yang tak terduga ini. Saat angin mulai semilir lagi menyentuhku kadang disitu aku merasa bahwa ada hal baru yang harus ku lakukan bersama orang-orang baru. Coba ku hentikan jejak yang usang yang menggangu setiap rebahku dalam malam dingin. Dan semoga orang yang Tuhan maksud adalah "dia" sekalipun kekecewaan datang tidak hanya sesekali. Kali ini aku mencoba untuk berharap sebuah kesempatan datang dari Tuhan untukku dan semoga untuknya juga. Coba saja dia tau bahasa ini bukanlah rethorika yang palsu. Yang masih menjadi pertanyaan adalah kau datang sebagai kekecewaan baru ataukah kau akan menjadi hal yang istimewa yang aku spesialkan suatu waktu nanti...
Senin, 14 September 2015
Manipulasi Hari
"Diantara ragam rupa wajah yang terlihat hari ini. Tak satupun yang dapat ku rangkul dan terlihat sama. Aku dimana ?"
Minggu, 06 September 2015
Aku Pernah Percaya
Aku pernah percaya bahwa pertemuan yang diciptakan Tuhan bukan sebagai awal kekecewaan yang terus menderu, lihat ketika hari-hari yang penuh tetesan air mata,yang kau butuhkan bukan seseorang yang sepertiku yang mampu mencekoki kesedihan yang membuatmu muntah dalam ketidakbahagiaanmu sebagai orang yang kukasihi. Aku pernah percaya bahwa hanya kau yang mampu ku cintai,namun terkadang keyakinan yang kau punya mampu dipatahkan. Langkah jejak yang kita buat di setapakpun semakin bertolak belakang.tanpa menoleh dan tanpa saling menyapa. Aku merindukan kenangan bukan merindukan penyesalan dan sekalipun itu kembali itu hanya menjadi kisah manis yang hanya mampu kita mimpikan. Lelaki yang sekarang kau percaya sebagai pelabuhanmu seakan menjadi titik terang yang kau punya untuk menerangi hatimu yang suram bersamaku. Cinta kadang abstraksi,dan penuh tanda tanya. Dia ricuh sekali dalam singgah di penempatan hati, tak memandang siapapun dan kapanpun. Aku pernah percaya bahwa akhirnya kita sebagai manusia yang saling berantagonis satu sama lain. Melalaikan perasaan yang sudah ada dan menguatkan ego untuk saling mengalahkan. Tuhan menawarkan pilihan baru untukmu. Pergi sejauh mungkin hingga aku tak mampu mengenalmu sebagai paras yang kuanggap indah. Dan aku pernah percaya ketika kau pergi waktu sudah memberikan kesimpulan yang menjawab semua penantian yang kuanggap sia-sia....
Langganan:
Postingan (Atom)